Borobudur, the world wonder

Sebagai salah satu keajaiban dunia, Candi Borobudur tak usah diragukan lagi daya tariknya. Jutaan manusia datang hanya untuk menikmati keindahannya dari dekat.

Namun, tahukah kamu kalau Borobudur akan lebih indah saat dinikmati dari kejauhan? Bahkan dari sisi yang tidak kelihatan sekalipun?

Konon, Borobudur ibarat sekuntum teratai yang mekar di tengah danau. Sedangkan bukit-bukit di sekitarnya merupakan bebatuan yang menjaganya. Sebagai fotografer, saya tertarik menjelajah lebih dalam ke ‘rimba’ Borobudur. Untuk melihat kehidupan yang lebih orisinil dan alam yang lebih sejuk.

Perjalanan saya dimulai dengan jalur menanjak ke Menoreh, bukit yang mengelilingi Borobudur sekaligus batas antara Yogyakarta dan Jawa Tengah. Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit ke arah barat daya candi. Namun, medan yang dilalui penuh tanjakan dan tikungan tajam. Jadi memang harus berhati-hati.

Setelah tanjakan terakhir terlewati, saya dihadapkan dengan sebuah pemandangan mempesona. Ini yang membuat saya lebih mengerti bahwa dibalik megahnya bangunan keajaiban dunia tersebut, Borobudur memiliki rahasia tersembunyi. Istilahnya, ada “bonus” bagi mereka yang mau merambah lebih dalam. Tak cuma ada keindahan saja, tetapi ada pula keramahan, keceriaan, kesadaran, dan kedamaian.

Dengan kesederhanaan dan kerendahan hati saya mengajak pembaca berkunjung ke tujuh keajaiban di Borobudur.

1. Sebuah Perspektif

Dari ketinggian Bukit Stumbu, salah satu bagian dari perbukitan Menoreh, kemegahan Candi Borobudur terlihat kecil di tengah hamparan tanah dan pepohonan. Begitupun pemandangan hutan-hutan menjadi tekstur yang bersusun. Perspektif inilah yang memainkan rasa dalam melihat sebuah bangunan. Sementara itu, di samping tempat saya berdiri dapat ditemui bentuk makro kelopak bunga liar yang tak kalah indah dengan stupa candi.

2. Nilai Kekhusyukan

Masih di Stumbu saya bisa merasakan pagi yang sangat khusyuk. Dimulai dengan matahari dan kabut yang membelai tanah, udara dingin, dan sunyi. Berlanjut pada ritual-ritual alam yang mungkin sudah ada sejak zaman purba. Si jengger, jago putih yang saya temui mengepak-kepakkan sayapnya dan entok tampak tak terganggu dengan kehadiran saya.

Di kejauhan, seorang bapak mulai menggarap apa saja yang perlu dikerjakan. Mendedikasikan waktu untuk menyempurnakan pekerjaannya sedari awal. Semuanya berjalan sangat natural, seperti pemain film yang telah hafal benar naskah dan perannya.

3. Menggapai Kesunyian

Beberapa sudut tetap sunyi, terpaku pada pagi yang terus beranjak. Suasana yang sangat berbeda dengan kota, sangat cocok bagi orang yang ingin mencari ketenangan. Disini saya benar-benar merasa diajak untuk mencapai frekuensi ketenangan yang sama. Saya terus memandangi dan mencari apa yang akan mereka siratkan dalam diamnya masing-masing.

Hanya kambing hitam yang beranjak berdiri ketika saya memotretnya, sepertinya dia tahu sesuatu.

4. Pembelajaran Alam

Setelah kesunyian pagi mulai berlalu, riuh anak sekolah mulai terlihat. Di ujung bukit terdapat SD Giritengah, yang jika diterjemahkan artinya adalah gunung tengah. Di situ bocah-bocah dituntun untuk belajar ilmu melalui papan tulis, tapi saya yakin di alam mereka belajar lebih banyak. Belajar tentang kehidupan, bergagi, dan bersahabat. Saya tidak tahan untuk merekam wajah-wajah polos mereka, polos dan jujur.

5. Orang-orang Pekerja

Turun dari bukit berjarak 5 menit terdapat sebuah desa. Desa Nglipoh namanya, terdapat industri gerabah skala rumah tangga. Orang-orang membuat beberapa bentuk gerabah dari tanah liat langsung dari tangan mereka, keterampilan yang entah sejak kapan muncul di tempat itu.

Gerabah di sini sedikit berbeda dengan gerabah di sentra keramik Kasongan, Yogyakarta. Gerabah disini lebih menekankan desain fungsional ketimbang sebagai hiasan. Secara tidak langsung ini akan menjaga penggunaan kuali tanah, kendi, gentong, dan sebagainya dalam rumah tangga. Sangat tradisional dan ramah lingkungan. Mungkin sebelum uang mulai berlaku gerabah-gerabah itu akan menjadi alat tukar yang lebih tinggi.

6. Selalu Terbuka

Keterbukaan masyarakat masih terasa, kuncinya kita mau berkomunikasi. Beberapa turis asing berseliweran, waktu itu saya bersama mereka dan menyaksikan hangatnya sambutan masyarakat. Satu ceret teh hangat dan sepiring bakwan yang baru digoreng tersaji, kadang warga mempersilakan masuk ke sebuah dapur tradisional untuk mencicipi masakan yang dibuat pagi itu.

Benar-benar luar biasa, mungkin benar kata orang bahwa kesederhanaan adalah ruang tunggu bagi kesempurnaan.

7. Kedamaian Mendalam

Ada banyak gambaran mengenai keajaiban-keajaiban tersebut yang belum terwakili dalam tulisan. Banyak hal akan terlewat kecuali kalian mau mengunjungi langsung daerah tersebut.

Salah satunya adalah rasa damai yang sulit digambarkan. Kedamaian yang entah dari mana datangnya, beruntung kita masih bisa mememukannya di sini. Sepertinya memang telah bersemayam ribuan tahun di Borobudur dan terjaga dalam senyum, keramahan dan rumput-rumput basah.

Source : wego.co.id

Artikel Terkait

WhatsApp chat